Tampilkan postingan dengan label bentang budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bentang budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 April 2014

Caping, Pelindung Genitalia Perempuan Melayu Kuna

Bentuk caping yang menyerupai daun sirih
F/Yusnadi
Lemahkan Syahwat Seksual Lewat Jampi-jampi

Bentuknya boleh mungil. Kata orang Melayu, kecik-nonet. Jangan tanya kegunaannya. Lantaran caping bisa melemahkan syahwat pemakainya. Kok bisa?

FATIH MUFTIH, Tanjungpinang

Bila mendengar lema caping, benak orang akan berasosiasi dengan tudung kepala yg dibuat dr anyaman bambu. Sementara bagi mereka yang melek baca, lema ini diartikan akronim dari kolom 'Catatan Pinggir' di Majalah Tempo karya Goenawan Mohamad. Tapi, caping di sini tidak membicarakan keduanya. 

Caping adalah satu dari sekian banyak koleksi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) Tanjungpinang. Dipajang di ruang Alam Perkawinan Melayu. Setiap pengunjung, tidak diperbolehkan menyentuh benda yang terbuat dari perak ini. Posisinya berada tepat di tengah-tengah ruangan. Digeletakkan di atas beludru merah berdinding-atapkan kaca bening. Di sisinya, ada pamflet petak mengabarkan secara singkat koleksi yang terbilang langka ini.

"Caping adalah aksesori yang dipakai perempuan untuk melindungi kemaluannya," terang Tamrin Dahlan, Kepala Museum SSBA. Galibnya, digunakan ketika suami sedang pergi ke medan perang atau ke luar kota dalam titimangsa lama. Tamrin menambahkan, tidak sembarang perempuan boleh mengenaka caping. "Hanya perempuan bangsawan yang boleh memakainya," katanya.

Pantangan itu berlaku lantaran caping terbuat dari logam mulia seperti emas maupun perak. "Kalau yang ada di sini itu terbuat dari perak," timpal Anto Rambey, pemandu pengunjung museum. Sedangkan untuk masyarakat 'kelas dua', lanjut Tamrin, biasanya menggunakan daun sirih sebagai caping-nya.

Kamis, 20 Maret 2014

Candu, Pemicu Perang Riau

Alat isap candu di Museum Sultan Sulaiman
Badrul Alamsyah Tanjungpinang. F/Yusnadi
TANJUNGPINANG (BP) - Sejarah mencatat candu, opium, madat, atau tengkoh pernah menjadi komoditi legal di Keresidenan Riau dan daerah taklukannya. Termasuk dalam lingkup itu adalah Tanjungpinang. Sebagai ibu kota sekaligus pusat pengendalian monopoli perdagangan candu, maka Residen Riouw pun membangun kantor atau gudang penyimpanan candu. "Itu yang sekarang jadi Bestari Mall," kata Anto Rambey, petugas Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) Tanjungpinang.

Kemudian Rambey, begitu laki-laki ini akrab disapa, memperlihatkan lima alat pengisap candu yang menjadi koleksi Museum SSBA. Kelima alat itu diyakini sebagai alat isap yang banyak digunakan masyarakat Tanjungpinang, utamanya etnis Tionghoa, akhir abad 18. Bentuknya unik dan beragam. Pun panjang pipanya. Dari 25-45,5 sentimeter. Begitu juga bentuk tabungnya. Ada yang bermotif bunga dari keramik hingga ukiran dekoratif. Sementara bahan dasarnya, ada yang terbuat dari besi, kuningan, dan bahkan perak. "Kalau sekarang kita mengenalinya sebagai bong," ucap Rambey.

Selain sebagai komoditi dagang, candu punya kisah tersendiri di balik penetapan hari jadi Kota Tanjungpinang. Aswandi pernah menjelaskan, Februari 1782 di perairan Tanjungpinang, datang kapal Inggris bernama Betsy. Kapal itu disinyalir membawa barang-barang perdagangan. Termasuk di dalamnya, 1.154 peti berisi candu. Kapal itu kemudian dibajak oleh pembajak dengan kapal La Sainte Therese yang dinakhodai Mathurin Barbaron, nakhoda asal Perancis.