![]() |
| Bentuk caping yang menyerupai daun sirih F/Yusnadi |
Lemahkan Syahwat Seksual Lewat Jampi-jampi
Bentuknya boleh mungil. Kata orang Melayu, kecik-nonet. Jangan tanya kegunaannya. Lantaran caping bisa melemahkan syahwat pemakainya. Kok bisa?
FATIH MUFTIH, Tanjungpinang
Bila mendengar lema caping, benak orang akan berasosiasi dengan tudung kepala yg dibuat dr anyaman bambu. Sementara bagi mereka yang melek baca, lema ini diartikan akronim dari kolom 'Catatan Pinggir' di Majalah Tempo karya Goenawan Mohamad. Tapi, caping di sini tidak membicarakan keduanya.
Caping adalah satu dari sekian banyak koleksi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) Tanjungpinang. Dipajang di ruang Alam Perkawinan Melayu. Setiap pengunjung, tidak diperbolehkan menyentuh benda yang terbuat dari perak ini. Posisinya berada tepat di tengah-tengah ruangan. Digeletakkan di atas beludru merah berdinding-atapkan kaca bening. Di sisinya, ada pamflet petak mengabarkan secara singkat koleksi yang terbilang langka ini.
"Caping adalah aksesori yang dipakai perempuan untuk melindungi kemaluannya," terang Tamrin Dahlan, Kepala Museum SSBA. Galibnya, digunakan ketika suami sedang pergi ke medan perang atau ke luar kota dalam titimangsa lama. Tamrin menambahkan, tidak sembarang perempuan boleh mengenaka caping. "Hanya perempuan bangsawan yang boleh memakainya," katanya.
Pantangan itu berlaku lantaran caping terbuat dari logam mulia seperti emas maupun perak. "Kalau yang ada di sini itu terbuat dari perak," timpal Anto Rambey, pemandu pengunjung museum. Sedangkan untuk masyarakat 'kelas dua', lanjut Tamrin, biasanya menggunakan daun sirih sebagai caping-nya.

