Tampilkan postingan dengan label features. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label features. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Agustus 2014

Refleksi Menjelang Perayaan Dirgahayu ke-69 Kemerdekaan RI di Kijang, Bintan Timur

Abu (69) sedang menjahit celana pelanggannya sembari
menunggu bendera jualannya laku terjual, Selasa (12/8).
F/Fatih.
Menambal Nasionalisme yang Dikoyak-koyak Sepi

Sudah jadi keharusan, hari kemerdekaan sebuah negara dirayakan. Dengan kibaran Merah-Putih di halaman. Sebagai pancang ingatan, di balik pengibaran itu ada perjuangan. Namun, hingga kemarin di Kijang, Sang Dwiwarna itu masih terjurai-jurai menjadi barang dagangan. 

FATIH MUFTIH, Bintan. 

Enam puluh sembilan tahun silam, Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang diyakininya adalah hak setiap bangsa. Kemerdekaan yang berarti kebebasan bagi anak-anak bangsa mengelola dan membangun negaranya. 

Memperjuangkan hak sebagai bangsa yang merdeka, tidak dilalui sambil lewa belaka. Ada darah yang tertumpah. Ada nyawa yang meregang. Ada harta yang terkuras. Atas nama kebaikan anak-cucu ke depannya, 69 tahun yang lalu itu semua bukanlah apa-apa. 

Melihat Orientasi Pengenalan Kampus di Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid (STPS) Bintan

GM The Sanchaya Hotel, Murlidhar Rao, memberikan
motivasi bekerja di STP Sahid Bintan, Senin (11/8). F/Jay.
Genjot Motivasi Mahasiswa Baru, Hadirkan GM The Sanchaya Hotel

Ajang orientasi pengenalan kampus bagi mahasiswa baru di Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid (STPS) Bintan berlangsung semarak, Senin (11/8). Sekolah tinggi di Bintan Timur ini menghadirkan Murlidhar Rao, General Manager (GM) The Sanchaya Hotel. "Kalau disuruh bayar, gak tahu harus bayar berapa," guyon Bupati Bintan, Ansar Ahmad.

FATIH MUFTIH, Bintan. 

Pihak STPS Bintan menyadari, ajang orientasi pengenalan kampus tak boleh berlangsung biasa-biasa saja. Ajang ini dinilai sebagai pembentukan karakter tahap pertama tiap mahasiswa baru yang akan dididik menjadi tenaga kepariwisataan handal ke depannya. Bila hanya sekadar diisi dengan kegiatan banyolan-banyolan saja, dikhawatirkan tak meninggalkan kesan baik ke depannya. 

Untuk itu, STPS Bintan mengundang pihak The Shancaya Hotel, hotel bertaraf bintang yang sedang menanamkan investasinya besar-besaran di Bintan, untuk berbagi pengalaman mengenai dunia kerja kepariwisataan. 

Lebih Dekat dengan Khairan Aldhy (18), Sutradara Muda asal Tanjungpinang

Wulan Guritno dan Khairan Aldhy ketika syuting teaser
Heaven Island di Tanjungpinang. F/Dok Aldhy.
Ingin Menduniakan Kepulauan Riau, Heaven Island Siap Digarap ke Layar Lebar 

Tak syak, Tanjungpinang adalah arsenal seniman. Mulai dari Raja Ali Haji hingga Khairan Aldhy. Nama terakhir, adalah bocah 18 tahun yang telah menyutradarai dua film. Apresiasi atas karyanya datang dari para pesohor. "Di umur 18 tahun dia bisa buat film bertaraf internasional. Pegang omongan gue, this will go big," tulis Wulan Guritno di akun Path pribadinya. 

FATIH MUFTIH, Tanjungpinang. 

Sepintas, wajah Khairan Aldhy tak merepresentasikan usianya. Bagi yang kali pertama bersua dengannya, akan sulit percaya, bahwa usia Aldhy, demikian ia akrab disapa, belum genap 20 tahun. Namun, meski usianya belum genap berkepala dua, remaja satu ini tak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih atas apa yang dilakukannya untuk Kepulauan Riau. 

Maka benarlah kata-kata mutiara dari George Eliot, novelis Inggris akhir abad 19, yang mengatakan, jangan menilai buku dari kavernya. Usia yang sedang dijalani Aldhy tak membuatnya berdiam diri. Dengan segenap kecintaan dan ketulusannya, ia melahirkan dua karya. 

Ketika Wakil Bupati Bintan, Khazalik Berbuka Puasa Bersama Persatuan Jurnalis Bintan (PJB)

Suasana buka bersama Wakil Bupati Bintan, Khazalik
bersama anggota Persatuan Jurnalis Bintan, di
RM Sederhana, Selasa (22/7). F/One.
Diiringi Gurauan Jagoan Capres, Ingatkan Batas Profesionalisme dan Kekeluargaan

Di meja makan panjang sebuah restoran, Khazalik meriung dengan belasan wartawan. Ini bukan gala konferensi pers kerja pemerintahan. Sehingga, tak satu pun pertanyaan yang diajukan. Karena ini sudah kesepakatan. 

FATIH MUFTIH, Bintan. 

Mantan Kepala Dinas Pariwisata Bintan ini menyebutkan, undangan temu wartawan ini sekadar sebagai ajang silaturahim. Karena, katanya, selama ini pertemuan lebih bersifat profesianlisme tuntutan pekerjaan. Khazalik sebagai narasumber. Sedangkan wartawan-wartawan Bintan, yang berasosiasi di Persatuan Jurnalis Bintan (PJB), adalah golongan yang mencari sesuap makan lewat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk mengkabarkan pada khalayak, ihwal kondisi Bintan kekinian. 

Maka dari itu, untuk mengendurkan urat pekerjaan, Khazalik dan Bagian Humas dan Protokoler Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan mengundang segenap anggota PJB untuk berbuka puasa bersama, di sebuah rumah makan ternama, Selasa (22/7). "Ingat, hari ini saya tak mau ditanyai apa-apa terkait pemerintahan. Karena kita di sini cuma akan makan-makan," ujar Khazalik. 

Mengunjungi Pameran Foto Street Ramadan Kepri Photo Community (KPC) dan Mat Kodak Club di Kijang

Suasana pameran foto KPC dan Mat Kodak Club di
Lapangan Relief Antam Kijang, Rabu (16/7). F/Albet.
Alternatif Baru Menunggu Azan Magrib, Tularkan Virus Fotografi ke Masyarakat

Sebelumnya, masyarakat Kijang menunggu waktu berbuka puasa dengan sekadar berburu takjil di kawasan Lapangan Relif Antam. Namun, ada yang berbeda pertengahan pekan kemarin. Sambil berburu takjil, masyarakat bisa memanjakan matanya lewat pesona 100 foto yang dipamerkan. 

FATIH MUFTIH, Bintan.

Sudah jadi aksioma, detik-detik menunggu alunan azan magrib di bulan Ramadan bisa beringsut sangat lambat. Saking lambatnya, membuat masyarakat jengah bila sekadar menunggu dengan duduk bermalas-malas di rumah. Sehingga, hal ini membuat jalanan di kota manapun mendadak riuh lalu-lalang kendaraan. Termasuk di kawasan Kijang, Bintan Timur. 

Ada banyak opsi yang dibisa dikunjungi, sekadar menghabiskan waktu menanti tabuh bedug magrib. Bagi yang ingin berbincang santai, bisa kongkow-kongkow di seputaran kolam taman kota bersama teman-teman. Akan tetapi, yang paling sah dan digemari adalah berburu takjil alias makanan kecil sekadar pengganjal perut alias pembatal puasa. 

Bincang Malam dengan Anindito Respati Giyardani, Kreator Tongsis Asal Indonesia

(Kanan) Babab mengambil foto selfie menggunakan
tongsis hasil kreasinya, Rabu (11/6) di Singapura. F/Fatih.
Bermodal Rp 1 Juta dari Kredit, Tongsis Sedang Dipatenkan di Amerika

Narsis atau mati. Itu slogan banyolan Anindito Respati Giyardani, sang kreator tongkat narsis (tongsis). "Kalau gak narsis, buat apa punya social media," kelakarnya. 

FATIH MUFTIH, Singapura. 

Rabu (11/6) malam, sekitar pukul 21.00 waktu setempat, cuaca Singapura begitu panas. Lantaran tak betah berdiam diri di hotel, wartawan koran ini memilih berjalan-jalan. Kebetulan seorang teman di kamar sebelah, juga sedang ingin menikmati suasana malam di negeri singa. 

Dengan mengendarai moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT), kami menuju kawasan Orchard. Tak sampai 10 menit dari stasiun Dhoby Ghaut. Kata teman wartawan koran ini, kami akan menemui seseorang yang dianggapnya sebagai hantu di dunia jejaring sosial. 

Ketika Ansar Ahmad dan Khazalik Sahur Bersama Warga Kijang, Bintan Timur

Bupati Bintan, Ansar Ahmad dan Wabup Khazalik santap
sahur bersama di masjid Nurul Iman Kijang, Sabtu (5/7).
F/Fatih.
Tonton Dua Pertandingan Piala Dunia, Menuai Pujian di Twitter

Sabtu (5/7) malam lalu, Ansar dan Khazalik bersiteru hebat. Bupati dan Wakil Bupati Bintan ini sudah gulung lengan baju. Jotos-jotosan? 

FATIH MUFTIH, Bintan. 

Kedua pemimpin daerah ini duduk saling berjauhan di Akau Taman Kota Kijang, Bintan Timur. Sekira-kira, berselisih tiga meter dan beberapa kursi. Raut muka Ansar sudah tegang. Sementara Khazalik tersenyum sendiri sambil menatap layar telepon genggamnya. Gol yang dicetak Gonzalo Higuain di menit kedelapan sudah cukup untuk membuat Albiceleste mendominasi pertandingan. 

Malam Minggu kemarin, Ansar terpaksa menelan pil pahit, lantaran Belgia, tim yang didukungnya pada malam perempat final itu, gagal menundukkan Argentina. Berbanding terbalik dengan wakilnya, Khazalik, yang terlihat semringah usai pertandingan. Khazalik berteriak kencang untuk Lionel Messi dkk. 

Lebih Dekat dengan Wakil Bupati Bintan, Khazalik (2-habis)

Wakil Bupati Bintan, Khazalik. F/Ririn.
Kantongi 22 SK Mutasi Kerja, Siap Maju Pemilihan Bupati Bintan 2015

Sebagai anak watan Melayu, Khazalik sadar betul, hidung tak mancung inikan pipi tersorong-sorong. Namun 2010 silam, Bupati Bintan, Ansar Ahmad justru menyadari betul potensi birokrat yang mengaku memiliki 22 Surat Keputusan (SK) mutasi ini. 

FATIH MUFTIH, Bintan. 

Selulus dari Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (sekarang IPDN) tahun 1987, Khazalik memulai petualangannya di dunia pemerintahan. Tak ada sebuah permulaian dari posisi tinggi. Kala usianya menapak 24 tahun, Khazalik hanya berstatus sebagai pegawai biasa di Kantor Gubernur Riau. Selayaknya pegawai bawahan, ia tak punya apa-apa, selain semangat untuk tetap melanjutkan karir. 

Namun setapak demi setapak dalam jangka puluhan tahun, pegawai rendahan itu mulai bertransformasi. Berpindah-pindah tugas menjadi konsekuensi. Tercatat, Khazalik pernah berdinas di pelbagai daerah. Mulai dari pegawai Kantor Camat Siantan di Tarempa, Sekretaris Camat di Karimun, hingga diamanahi menjadi Camat Galang. Pengalamannya menjadi camat ini kemudian yang melesatkan karirnya ke Bintan. Juli 13 tahun lalu, Khazalik dilantik menjadi Camat Bintan Timur. Jabatan ini semakin memantapkan karir birokrasi Khazalik di Bintan. Setelahnya, ia mulai berpindah-pindah dinas. 

Lebih Dekat dengan Wakil Bupati Bintan, Khazalik (1)

Wakil Bupati Bintan, Khazalik. F/Ririn.
Dari Berjualan Daun Pisang, Hingga Terusir dari Barisan Parade

"Bercita-cita jadi wakil bupati? Membayangkan bisa lanjut sekolah saja tak berani," ungkap Wakil Bupati Bintan, Khazalik, ketika ditemui Batam Pos di beranda rumahnya, usai menunaikan salat tarawih, Sabtu (28/6) lalu. 

FATIH MUFTIH, Bintan.

Khazalik seketika menarik kursi lipat di beranda rumahnya. Tempat ini bukan hanya digunakan sekadar untuk bersantai, tetapi juga merupakan tempat Khazalik bermain domino dengan rekan atau sanak saudara yang mengunjungi kediamannya.

Angin malam pertama Ramadan berembus kencang. Sementara untuk mengusir dingin yang mulai merajam kulit di balik kemeja koko putihnya, Khazalik menyesap secangkir kopi hitam yang tersaji di atas meja. Kemudian memantik sebatang sigaret putih favoritnya. 

Menjadi wakil bupati, kata Khazalik, tak pernah benar-benar terlintas di kepalanya. Bagaimana tidak, tentu itu semacam si pungguk merindukan bulan baginya, kala itu. Karena semasa kecil, pria kelahiran Tarempa ini mesti berjualan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. "Bisa membayangkan melanjutkan sekolah saja sudah hebat," ujarnya. 

Ketika Bupati Bintan Ansar Ahmad Nonton Bareng Piala Dunia 2014 di Kijang

Bupati Bintan, Ansar Ahmad nobar Piala Dunia di Kijang,
Bintan Timur, Senin (16/6). F/Fatih
Datang Tiga Jam Sebelum Dimulai, Jagokan Brasil Jadi Kampiun

Begadang jangan begadang, bila tiada artinya. 
Begadang boleh saja, asal nonton bola bersama. 

FATIH MUFTIH, Bintan.

Penat seharian melakoni aktivitas padat sebagai Bupati Bintan, tak menyurutkan antusiasme Ansar Ahmad merayakan euforia tahun sepak bola bersama masyarakatnya. Rencana itu ia lontarkan kepada rekan media sesaat usai sidang paripurna, Senin (16/6) siang kemarin. "Ayo nih, kapan kita nonton bareng?" cetusnya usai sesi tanya-jawab. 

Pada mulanya, tak satu pun awak media menanggapi ajakan orang nomor satu di Bintan itu. Pasalnya, peluit pertandingan Piala Dunia 2014 yang paling dini baru dibunyikan pukul 23.00 WIB. Agak meragukan jam tengah malam itu bagi seorang pekerja supersibuk semisal bupati untuk bertarung melawan kantuk. "Nanti malam Jerman lawan Portugal. Seru tuh," ujar Ansar. "Kita nonton bareng di Taman Kota Kijang ya." Pintu mobil BP 8 B ditutup. Rekan-rekan media masih belum yakin Bupati Bintan akan datang menontong pertandingan perdana di Grup G itu. 

Melihat Koleksi Buku Sastra di Perpustakaan Daerah Bintan

Deretan buku sastra koleksi Perpustakaan Daerah
Bintan. Belum banyak buku sastra teranyar di sini. F/Fatih. 
Susahnya Menemukan Buku Sastra Terbitan Terbaru

"Beberapa sebab mendasar amburadulnya Indonesia sekarang, mungkin sekali karena dalam fase pertumbuhan intelektual, mereka membaca nol buku sastra di sekolah," kata penyair Taufiq Ismail usai menerima Habibie Award tujuh tahun silam.

FATIH MUFTIH, Bintan.

Tiga siswa berseragam biru-putih itu meriung. Di hadapannya, ada banyak buku dalam keadaan terbuka. Selisik punya selisik, tiga siswa SMPN 1 Bintan itu sedang menyalin bahan pelajaran jelang menghadapi ujian akhir semester genap. "Buku fisika dan penjaskesnya sudah nggak ada di sekolah, Om. Jadi kami nyalin di sini," kata Vani, ditemui Batam Pos di Perpustakaan Daerah Bintan, Kijang, Selasa (10/6) lalu. 

Kepada Batam Pos, Vani menuturkan, dia dan teman-temannya hanya ke perpustakaan kala ada tugas dari sekolah saja. Selebihnya, ia jarang mengunjungi perpustakaan dua lantai itu. Saat ditanya, mengapa jarang mengunjungi perpustakaan yang memiliki ribuan koleksi judul buku itu, Vani dan kedua temannya hanya tersenyum malu. Sebuah senyum polos khas anak-anak. "Buku ceritanya nggak ada yang bagus, Om," celetuk Ary, teman Vani.

Mahmud Sukirno, Penerima Penghargaan Kalpataru 2014 Kategori Perintis Lingkungan (2-habis)

Sepetak lahan tempat Pakde Kirno merawat bibit-bibit lokal
asli Bintan yang tak jauh dari rumahnya. F/Fatih
Sudah Tebar 1 Miliar Bibit, Utamakan Bibit Lokal Bintan

Tanam. Tanam. Tanam. Hijau. Hijau. Hijau. Itu mimpi panjang Mahmud Sukirno, warga Desa Toapaya Utara, Bintan, setelah menerima penghargaan Kalpataru 2014. 

FATIH MUFTIH, Bintan. 

Ada sebagian orang yang sedikit berbuat, tapi mengejar penghargaan demi penghargaan selama hidupnya. Ada yang justru banyak berbuat dan memberikan manfaat, tapi jarang terlihat. Beruntung hidup Sukirno. Ia berbuat sekaligus terlihat. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bintan pun mengakomodasi kecintaan Sukirno terhadap tumbuhan hingga menasbihkannya sebagai perintis lingkungan hijau 2014. Dari 240 juta jumlah penduduk Indonesia, Sukirno adalah satu dari 13 peraih penghargaan tingkat nasional ini. 

Meski begitu, pria kelahiran 15 Juni 1964 silam ini mengaku, tak pernah tahu apa itu Kalpataru. "Saya saja baru tahu dari tetangga yang buka iPad di sini," katanya. Selama lebih dari 17 tahun menggeluti botani, tak pernah terpikirkan olehnya, apa yang dibuatnya ini justru mengantarnya hingga ke istana wakil presiden RI. Tentu itu semua tak lepas dari kecintaan Sukirno terhadap tumbuhan. Baginya, tumbuhan bukan sekadar komoditi untuk mencari keuntungan. 

Karena bila mencari keuntungan, seperti yang pernah dikatakan berulang kali, rumahnya barangkali sudah bukan papan lagi. Tapi beton dan bertingkat. Apa yang Sukirno katakan ini ada benarnya. Bayangkan saja, sejak awal kali membibit tumbuhan segala jenis varietas yang mungkin dikembangkan, setidaknya sudah ada 1 miliar bibit pohon yang Sukirno tanam. Seribu juta bibit itu tersebar hampir ke seluruh kabupaten/kota yang ada di Kepulauan Riau. 

Bila tiap bibit Sukirno memperoleh keuntungan Rp 1.000 perak saja, pundi-pundi kekayaan Sukirno bisa mencapai Rp 1 triliun!

Sekali lagi, Sukirno menegaskan bukan rupiah yang ia cari dari kecintaannya akan botani. Asal mencukupi kehidupan sehari-hari dan mampu menyekolahkan anak-anaknya, sudah menjadi kekayaan nyata bagi Sukirno. Sehingga, bapak dua anak ini tak ragu-ragu memberikan bibitnya secara cuma-cuma kepada warga sekitar. "Walau belum bisa banyak. Karena untuk itu juga butuh duit untuk beli polybag, upah yang ngisi tanah, dan penyemaian," ucapnya. Semisal kala hendak menyambut Hari Lingkungan Hidup Nasional tahun lalu. 

Sukirno mengusulkan kepada Kepala Desa Toapaya Utara untuk mengadakan gotong-royong menanam pohon di sekitar kantor kepala desa hingga di beberapa tepi ruas jalan utama. "Saya bilang sama Pak Kades, bapak tinggal kerahkan masyarakat saja, urusan bibit saya yang urus," kenang Sukirno. Maka, bila Anda melintas di jalur lama Bintan ke Tanjunguban, jangan heran bila anda mendapati tumbuhan-tumbuhan di tepian jalan itu adalah "sentuhan-midas" Sukirno. 

"Bayangkan saja, Mas, kalau satu pohon itu bisa kasih oksigen untuk banyak orang, apalagi banyak pohon. Ini jadi amal yang tak putus-putus," ucap Sukirno lirih. 

Keberadaan trofi dan sertifikat Kalpataru 2014 di rumah Sukirno, kian menyalakan api semangat suami Supinah ini. Api semangat itu, kata dia, bahkan dipantik langsung oleh Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, yang dijumpainya di Jakarta. "Kata Pak Menteri, tantangan menaklukkan tanah Bintan ini berbeda dengan tanah Jawa dan Sumatra," kata Sukirno, merujuk kalimat Menhut. 

Pernyataan Zulkifli didasari dengan kondisi tanah Bintan yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai pertambangan. Bauksit, misalnya. Selain itu, juga dikarenakan kada keasaman (ph) tanah Bintan yang membuatnya tak bisa sembarangan ditanami. Terkait hal yang pertama, Sukirno mengaku selalu ngeri bila membayangkan pengerukan perut bumi itu terus berlangsung. Karena imbasnya langsung terasa dengan penggundulan lahan-lahan hijau. "Ngeri saja kalau nanti keluar rumah langsung gosong," ucapnya. 

Namun, bukanlah Sukirno bila hanya kengerian-kengeriannya saja yang diumbarkan. Ia mengatakan, sudah menjalin hubungan dengan kontraktor penambang untuk melakukan penghijauan. Ini merupakan tanggung jawab Sukirno yang tak bisa ia elakkan. Sukirno pun menyanggupi tantang penghijauan lahan bekas tambang seluas 260 hektare. "Sekarang baru digarap 30 hektare dulu dengan bibit pohon karet," ujarnya. Mengapa karet?

Sukirno mengusulkan kepada penaja pertambangan agar penghijauan ini bukan sekadar menghijaukan kembali lahan-lahan yang sudah dikeruk kekayaan buminya. Melainkan Sukirno juga menginginkan ada pemanfaatan lanjutan dari penghijauan itu. "Kalau ditanam karet, kan juga bisa menyerap tenaga kerja penyadapnya," sebutnya. Kontraktor pun menerima usulan nominasi Kalpataru 2012 ini. 

Sementara untuk mengakali status lahan Bintan, yang kata Menhut Zulkifli Hasan, sebagai lahan paling kritis tingkat kesuburannya di Indonesia, Sukirno sudah punya strateginya. Saat ini, ia sedang mencoba menyemai dan memperbanyak bibit-bibit lokal asli tanah Bintan. Menurutnya, bibit lokal punya banyak keunggulan ketimbang bibit-bibit unggul dari luar daerah. "Karena bibit lokal itu sudah sesuai dengan kondisi tanah di sini," ungkap Sukirno. Sehingga, Sukirno tak bosan-bosan mengingatkan petani Bintan agar tak mudah tergiur dengan iming-iming keunggulan bibit luar daerah. 

Di antara sekian bibit unggul lokal yang tenga ditumbuh-kembangkan Sukirno, seperti gaharu, sengon, medang, teraling, bingangor, mahoni, dan pulai. "Karena jenis-jenis pohon ini sudah ada di sini sebelum kita," ujar Sukirno. Karena bila tak segera diperbanyak varietas bibit lokal itu, Sukirno mengkhawatirkan jenis-jenis kayu hutan itu segera punah. Untuk menyelaraskan pembibitan itu, Sukirno sudah menggandeng Dinas Kehutan dan Pertanian Bintan. "Sudah menjadi mimpi saya untuk membuat hutan-hutan yang menjadi lahan konservasi bibit-bibit unggul lokal," tutup Sukirno. ***

Mahmud Sukirno, Penerima Penghargaan Kalpataru 2014 Kategori Perintis Lingkungan (1)

Mahmud Sukirno menunjukkan piagam dan trofi Kalpataru
kategori Perintis Lingkungan 2014, Senin (9/6). F/Fatih
Cinta Tumbuhan Sejak Kecil, Tetap Tinggali Rumah Berdinding Kayu

"Kalau orientasinya bisnis, mungkin rumah saya udah tingkat banyak," kata Mahmud Sukirno, penerima Penghargaan Kalpataru 2014 kategori Perintis Lingkungan.

FATIH MUFTIH, Bintan.

Dalam melakoni hidup, Sukirno, begitu lelaki murah senyum ini akrab disapa, menjadikan tumbuhan sebagai dunianya. Ia menjalani laku hidup dunia hijau-hijauan ini dengan segenap cinta. Meski sudah bisa menghasilkan lebih dari 200.000 bibit setiap tahunnya, Sukirno enggan jemawa. Suami Supinah ini masih tetap betah dan ajek meninggali rumah kuna berdinding kayu bersama dua anaknya. "Saya memang nggak mau mengubahnya, karena menghargai rancangan orang tua," ucapnya. 

Di sekitar tempat tinggal sederhana itulah Sukirno menumbuhkembangkan kecintaannya terhadap dunia tumbuhan. Ketika Batam Pos berkunjung ke rumahnya di RT 4 RW 2 Kampung Kangboi Desa Toapaya Utara, Senin (9/6) siang kemarin, terlihat beberapa warga tengah membenahi beberapa bibit tanaman yang hendak dikirim. 

Catatan Dari Bintan Fishing Festival 2014 di Tanjung Berakit

Suasana pasar rakyat dadakan di Pelabuhan Internasional
Tanjung Berakit Bintan, Minggu (8/6). F/Fatih
Pelabuhan Internasional Jadi Pasar Rakyat Dadakan

Pelataran Pelabuhan Internasional Tanjung Berakit yang semula lengang seketika riuh. Ratusan masyarakat sekitar berduyun-duyun membuka tenda dan membuka lapak barang dagangan. Bintan Fishing Festival (BFF) 2014 itu pemantiknya. 

FATIH MUFTIH, Bintan.

Lokasi Pelabuhan Internasional Tanjung Berakit yang berada di ujung Pulau Bintan, atau segaris lurus dengan pantai wisata Trikora, membuat pelabuhan ini acap lengang. Selain karena pelabuhan yang dibangun Dirjen Perhubungan Laut ini belum beroperasi, juga tentu karena jarak tempuhnya. Sekurang-kurangnya diperlukan waktu lebih dari 70 menit dari Tanjungpinang. 

Otomatis, tak banyak yang mengunjunginya. Hanya ketika menjelang petang saja, beberapa anak muda terlihat melangut senja sambil bercerita. Padahal, bila pelabuhan penyeberangan taraf internasional ini sudah beroperasi, kelak akan banyak kapal-kapal jenis ferry tujuan Singapura atau Malaysia yang hilir mudik di sini. Terlebih, tiap tahunnya, tak kurang 400 ribu wisatawan negeri jiran bertandang ke Bintan. 

Semarak Perayaan Hari Lansia Nasional di Kabupaten Bintan

Usia tak menghalangi warga lansia Bintan
berjoged oplosan, Kamis (29/5). F/Fatih
Dari Berurai Air Mata, Hingga Goyang Oplosan Bersama

Kerut di wajah 875 orang lanjut usia (lansia) sekadar penanda. Bahwa usia hanya deret-deret angka yang harus dilupa. Selagi masih bisa tersenyum tulus, jiwa mereka tetap muda. Bahkan, untuk goyang oplosan sekali pun. 

FATIH MUFTIH, Bintan. 

Sejatinya, Kamis (29/5) Mei kemarin adalah hari libur nasional. Waktu yang paling tepat untuk dihabiskan bersama keluarga di rumah atau melancong ke tempat-tempat wisata. Tapi, jajaran aparatur Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan justru berkumpul di Aula Kantor Bupati Bintan di Bandar Sri Bentan Buyu. 

Adakah ihwal penting, sehingga harus dirapatkan di hari libur? Bukan. Ini bukan tentang rapat-rapat tempat pejabat beradu argumen. Karena Bupati Bintan, Ansar Ahmad justru tampil santai dan datang ditemani sang istri Dewi Kumalasari. Peneraju utama Pemkab Bintan itu beserta jajarannya, mulai dari Sekretariat Daerah, Kepala Dinas, hingga Camat datang untuk merayakan Hari Lansia yang dirayakan serentak secara nasional Kamis kemarin. 

Bila sebelumnya, perayaan Hari Lansia Nasional di Bintan dirayakan di kawasan wisata Lagoi dan Trikora, ada kesengajaan acara dialihkan ke dalam aula. Namun, pemindahan tempat ini tak lantas membuat acara rutin tahunan Pemkab Bintan itu sepi dari undangan. Aula yang berkapasitas 1.000 orang itu sesak oleh ratusan orang lansia yang datang dari penjuru kecamatan yang ada di Bintan. 

Rabu, 28 Mei 2014

Melihat Semarak Festival Tari Kabupaten Bintan 2014

Penari Bintan membawakan tarian
tradisi kontemporer pada parade
tari Bintan 2014, Sabtu (21/4).
F/ist.
Gadis Bintan Pukau Pemuda Tanjungpinang

Siapa bilang gadis Bintan tak menawan? Yang berkata demikian, tentulah mereka yang tak datang ke lapangan Relief Antam Kijang. Karena, Sabtu (12/4) lalu, ada puluhan penari, yang tidak hanya piawai, tapi juga memikat mata.

FATIH MUFTIH, Bintan.

Mata Doni Ramadhan berbinar-binar ketika menatap panggung panggung di lapangan Relief Antam Kijang. Bukan karena permainan pencahayaan yang menghunjam dari segala arah. Bukan. Ada sesuatu yang membuat lidah mahasiswa asal Tanjungpinang ini tak kunjung berhenti berdecak. "Penarinya cantik-cantik," ucapnya dengan sorot mata yang tak beralih dari panggung. 

Doni menjelaskan, dirinya rela menempuh perjalanan lebih dari 30 kilometer dari Tanjungpinang ke Kijang. "Sengaja nak tengok festival tari ini," katanya. Bahkan, Doni rela datang satu jam sebelum festival dibuka. "Rugi kalau tak dapat menonton ajang tahunan ini," kata mahasiswa yang mengaku baru sekali menyaksikan secara langsung pertunjukan tari yang ada di Bintan. 

Namun, kendati perdana, Doni tidak bisa menutupi kekagumannya dengan penari-penari asal Bintan. Menurutnya, ada yang membedakan pertunjukan tari di Tanjungpinang dan Bintan. "Kalau boleh jujur, lebih cantik di sini penarinya," ucapnya sambil tertawa mengilai. Hanya saja, Doni buru-buru menghentikan tawanya. Ia mengatakan, itu baru alasan guyonannya. "Aslinya, pengin tahu perbedaan festival tari di Bintan dan Tanjungpinang," ungkap mahasiswa semester akhir ini. 

Di Balik Kunjungan Menteri Perindustrian MS Hidayat ke Smelter Bintan

Tamu undangan dari Jakarta, justru asik berfoto di tengah
kunjungan Menperin MS Hidayat ke smelter Bintan,
Rabu (16/4). F/Fatih.
Asik Berfoto Hingga Selfie, Alam dan Turisme Bintan Dikagumi

Smelter atau pabrik pemurnian dan pengolahan bijih bauksit, memang jadi tujuan utama dari kunjungan sehari Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat ke Bintan, Rabu (16/4). Namun, bukan smelter saja yang memukau mata Hidayat berserta rombongannya kemarin.

FATIH MUFTIH, Bintan.

Sesuai agenda yang diterakan, seharusnya rombongan Kementrian Perindustrian RI tiba di lokasi pembangunan smelter di kawasan Gunung Kijang, Bintan, pukul 10.15 WIB. Namun, hingga waktu yang ditentukan, belum terlihat iring-iringan mobil yang menuju lokasi smelter di balik bukit granit itu. Terdengar kabar, bahwasanya pesawat khusus yang membawa Hidayat bersama rombongan mengalami penundaan terbang. "Dengar-dengar delay," kata seorang pegawai humas protokoler Pemkab Bintan. 

Mendekati tengah hari, baru terdengar dengung sirine mobil patroli pengawal (patwal). Di belakangnya, terlihat iring-iringan mobil-mobil mentereng. Satu yang paling mentereng. Mobil mewah berplat merah RI 22, begitu yang terlihat di nomor polisi mobil jenis Alphard hitam itu. 

Setelah pintu kiri terbuka, tampaklah batang hidung orang yang sudah ditunggu-tunggu sedari tadi. Seketika beranjak beberapa langkah dari mobil, Hidayat mengedarkan pandangannya. Teriknya sinar matahari bukan kendala. Pasalnya, menteri asal Jawa Timur itu mengenakan kaca mata hitam. Setelah itu, ia berbisik dengan Bupati Bintan, Ansar Ahmad yang satu mobil dengannya. "Bapak memang diajak ikut rombongan menteri dari Jakarta," kata staf Humas Pemkab Bintan. 

Melihat Pelatihan 3 Hari Mengapresiasi Sastra Puslitbang Kebudayaan Jakarta di Bintan

Suasana pelatihan tiga hari mengapresiasi sastra
di Bintan Agro, Selasa (15/4). F/Fatih. 
Sambil Berlibur Menulis Karya Sastra

Yang berbahagia ketika pelaksanaan ujian nasional (UN), awal pekan lalu, adalah siswa kelas sepuluh dan sebelas. Mereka diliburkan selama tiga hari. Dan yang lebih berbahagia adalah mereka yang berkesempatan berlatih menulis sastra di resor Bintan Agro. 

FATIH MUFTIH, Bintan. 

Siapa yang tidak suka, bila mengisi liburan panjang dengan menginap di resor Bintan Agro selama dua malam. Apa lagi, tidak dipungut biaya sepeser pun. Syaratnya, mudah saja. Selama menginap di sana, 40 siswa dari Tanjungpinang ini hanya diwajibkan menulis karya sastra, boleh puisi maupun cerita pendek. Maka, banyak senyum yang mengembang dari raut muka kala pelatihan bertajuk "3 Hari Mengapresiasi Sastra" yang ditaja Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kebudayaan dari Jakarta itu dimulai. 

Selain mendapatkan fasilitas menginap, mereka juga diberikan kaus putih bersablonkan sajak Rendra, tas selempang, dan ditambah lagi modul-modul kepenulisan. Puslitbang Kebudayaan, selaku penaja, memang sengaja mendatangi negeri segantang lada ini. "Di sini, siswa-siswanya punya potensi besar untuk menulis karya sastra," kata Lukman Solihin, staf Puslitbang. Sehingga, Puslitbang menaruh harapan besar siswa-siswa di sini, dapat menulis dan mengapresiasi sastra secara baik. "Apalagi pahlawan nasional di bidang bahasa, Raja Ali Haji, kan berasal dari sini," lanjutnya. 

Berbincang Tentang AFTA 2015 dengan Bupati Bintan Ansar Ahmad

Bupati Bintan, Ansar Ahmad sedang menikmati kopi
di Pasar Tani, suatu hari. F/ist
Jangan Sampai Anak Bintan Menangis di Rumahnya Sendiri

Suka tak suka, ASEAN Free Trade Area (AFTA) sudah di depan mata. Siap tak siap, tahun 2015 masyarakat Indonesia harus menghadapinya. Bupati Bintan Ansar Ahmad menyadari itu dan memperbincangkannya.

FATIH MUFTIH, Bintan. 

Usai meresmikan tiga gedung baru MA Madani di Cerukijuk, Kamis (17/4) lalu, Bupati Bintan Ansar Ahmad mendadak menolak diwawancarai. Ini sesuatu yang tak biasa. Pasalnya, selama ini Ansar dikenal dekat dengan para kuli tinta. Namun, Ansar punya alasannya. "Lebih enak sambil ngopi di Pasar Tani," ujarnya sambil melayangkan senyuman.

Di pasar yang belum lama diresmikannya itu, Ansar memesan minuman favoritnya. Bukan, minuman bersoda atau minuman dalam kemasan. Hanya secangkir kopi susu dan segelas air putih hangat. Lalu untuk mengganjal perut, Ansar hanya memesan beberapa tambul tradisional. Setelah menelan beberapa gigitan bakpau, Ansar mulai berbicara tentang banyak hal. Namun, satu yang paling menyita perhatian adalah pandangan sarjana Ekonomi lulusan Unri Riau ini tentang penerapan AFTA 2015 mendatang. 

Mengunjungi Sekolah Dasar Negeri 003 Kangboi, Bintan

Pemandangan kala hujan turun di halaman
SDN 003 Kangboy, Selasa (29/4). F/Fatih.
Pernah Digenangi Banjir Setinggi 1,3 Meter, Direncanakan Relokasi

Ahad 19 Januari 2013 takkan pernah dilupakan siswa dan guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 003 Kangboy. Itulah titimangsa sekolah yang didirikan sejak 1974 itu digenangi banjir setinggi 1,3 meter, terbesar sepanjang sejarah. Kini, di usianya yang ke-40 sekolah itu direncanakan berpindah. 

FATIH MUFTIH, Bintan.

Tidak sulit untuk menuju SDN 003 Kangboi. Dulunya, jalan raya depan sekolah ini merupakan jalur favorit para pengendara menuju Tanjung Uban atau pun dari arah sebaliknya. Lokasi pastinya ada di KM 38,5 jalan raya lintas tengah. Namun, setelah jalan raya lintas barat resmi dibuka penghujung 2013 silam, suasana lintas tengah sontak lengang. Hanya beberapa kendaraan roda 6 atau 8 yang sesekali terlihat melintas.

Jelang menuju SDN 003 Kangboi, ada tikungan setengah curam usai turunan. Perlu sedikit mawas diri ketika melintasinya. Pasalnya, selain permukaan aspal yang licin, tepat di tikungan itu ada pengerjaan jalan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepri. Terpampang rambu-rambu insidentil; kurangi kecepatan anda. Di situ, para pekerja tengah asik menyulam temali besi menjadi rangka box culvert.

"Parit itu yang sering jadi penyebab banjir di sekolah kami," kata Kepala SDN 003 Kangboi, Ali Akbar, ketika dijumpai di ruang kepala sekolah, Selasa (29/4) silam.

Kepala sekolah yang berdinas sejak 2009 silam itu menceritakan, intensitas hujan yang tinggi dan parit yang tak berkerja dengan baik menyebabkan sekolahnya digenangi air hingga setinggi 1,3 meter. "Nyaris setinggi dada orang dewasa," tutur Ali. Beruntung, air meluap itu tiba di hari Ahad. Sehingga, siswa-siswa tak bertemu langsung dengan air yang menenggelamkan meja-kursi mereka.