Jumat, 15 Agustus 2014

Lebih Dekat dengan Wakil Bupati Bintan, Khazalik (2-habis)

Wakil Bupati Bintan, Khazalik. F/Ririn.
Kantongi 22 SK Mutasi Kerja, Siap Maju Pemilihan Bupati Bintan 2015

Sebagai anak watan Melayu, Khazalik sadar betul, hidung tak mancung inikan pipi tersorong-sorong. Namun 2010 silam, Bupati Bintan, Ansar Ahmad justru menyadari betul potensi birokrat yang mengaku memiliki 22 Surat Keputusan (SK) mutasi ini. 

FATIH MUFTIH, Bintan. 

Selulus dari Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (sekarang IPDN) tahun 1987, Khazalik memulai petualangannya di dunia pemerintahan. Tak ada sebuah permulaian dari posisi tinggi. Kala usianya menapak 24 tahun, Khazalik hanya berstatus sebagai pegawai biasa di Kantor Gubernur Riau. Selayaknya pegawai bawahan, ia tak punya apa-apa, selain semangat untuk tetap melanjutkan karir. 

Namun setapak demi setapak dalam jangka puluhan tahun, pegawai rendahan itu mulai bertransformasi. Berpindah-pindah tugas menjadi konsekuensi. Tercatat, Khazalik pernah berdinas di pelbagai daerah. Mulai dari pegawai Kantor Camat Siantan di Tarempa, Sekretaris Camat di Karimun, hingga diamanahi menjadi Camat Galang. Pengalamannya menjadi camat ini kemudian yang melesatkan karirnya ke Bintan. Juli 13 tahun lalu, Khazalik dilantik menjadi Camat Bintan Timur. Jabatan ini semakin memantapkan karir birokrasi Khazalik di Bintan. Setelahnya, ia mulai berpindah-pindah dinas. 

Lebih Dekat dengan Wakil Bupati Bintan, Khazalik (1)

Wakil Bupati Bintan, Khazalik. F/Ririn.
Dari Berjualan Daun Pisang, Hingga Terusir dari Barisan Parade

"Bercita-cita jadi wakil bupati? Membayangkan bisa lanjut sekolah saja tak berani," ungkap Wakil Bupati Bintan, Khazalik, ketika ditemui Batam Pos di beranda rumahnya, usai menunaikan salat tarawih, Sabtu (28/6) lalu. 

FATIH MUFTIH, Bintan.

Khazalik seketika menarik kursi lipat di beranda rumahnya. Tempat ini bukan hanya digunakan sekadar untuk bersantai, tetapi juga merupakan tempat Khazalik bermain domino dengan rekan atau sanak saudara yang mengunjungi kediamannya.

Angin malam pertama Ramadan berembus kencang. Sementara untuk mengusir dingin yang mulai merajam kulit di balik kemeja koko putihnya, Khazalik menyesap secangkir kopi hitam yang tersaji di atas meja. Kemudian memantik sebatang sigaret putih favoritnya. 

Menjadi wakil bupati, kata Khazalik, tak pernah benar-benar terlintas di kepalanya. Bagaimana tidak, tentu itu semacam si pungguk merindukan bulan baginya, kala itu. Karena semasa kecil, pria kelahiran Tarempa ini mesti berjualan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. "Bisa membayangkan melanjutkan sekolah saja sudah hebat," ujarnya. 

Ketika Bupati Bintan Ansar Ahmad Nonton Bareng Piala Dunia 2014 di Kijang

Bupati Bintan, Ansar Ahmad nobar Piala Dunia di Kijang,
Bintan Timur, Senin (16/6). F/Fatih
Datang Tiga Jam Sebelum Dimulai, Jagokan Brasil Jadi Kampiun

Begadang jangan begadang, bila tiada artinya. 
Begadang boleh saja, asal nonton bola bersama. 

FATIH MUFTIH, Bintan.

Penat seharian melakoni aktivitas padat sebagai Bupati Bintan, tak menyurutkan antusiasme Ansar Ahmad merayakan euforia tahun sepak bola bersama masyarakatnya. Rencana itu ia lontarkan kepada rekan media sesaat usai sidang paripurna, Senin (16/6) siang kemarin. "Ayo nih, kapan kita nonton bareng?" cetusnya usai sesi tanya-jawab. 

Pada mulanya, tak satu pun awak media menanggapi ajakan orang nomor satu di Bintan itu. Pasalnya, peluit pertandingan Piala Dunia 2014 yang paling dini baru dibunyikan pukul 23.00 WIB. Agak meragukan jam tengah malam itu bagi seorang pekerja supersibuk semisal bupati untuk bertarung melawan kantuk. "Nanti malam Jerman lawan Portugal. Seru tuh," ujar Ansar. "Kita nonton bareng di Taman Kota Kijang ya." Pintu mobil BP 8 B ditutup. Rekan-rekan media masih belum yakin Bupati Bintan akan datang menontong pertandingan perdana di Grup G itu. 

Melihat Koleksi Buku Sastra di Perpustakaan Daerah Bintan

Deretan buku sastra koleksi Perpustakaan Daerah
Bintan. Belum banyak buku sastra teranyar di sini. F/Fatih. 
Susahnya Menemukan Buku Sastra Terbitan Terbaru

"Beberapa sebab mendasar amburadulnya Indonesia sekarang, mungkin sekali karena dalam fase pertumbuhan intelektual, mereka membaca nol buku sastra di sekolah," kata penyair Taufiq Ismail usai menerima Habibie Award tujuh tahun silam.

FATIH MUFTIH, Bintan.

Tiga siswa berseragam biru-putih itu meriung. Di hadapannya, ada banyak buku dalam keadaan terbuka. Selisik punya selisik, tiga siswa SMPN 1 Bintan itu sedang menyalin bahan pelajaran jelang menghadapi ujian akhir semester genap. "Buku fisika dan penjaskesnya sudah nggak ada di sekolah, Om. Jadi kami nyalin di sini," kata Vani, ditemui Batam Pos di Perpustakaan Daerah Bintan, Kijang, Selasa (10/6) lalu. 

Kepada Batam Pos, Vani menuturkan, dia dan teman-temannya hanya ke perpustakaan kala ada tugas dari sekolah saja. Selebihnya, ia jarang mengunjungi perpustakaan dua lantai itu. Saat ditanya, mengapa jarang mengunjungi perpustakaan yang memiliki ribuan koleksi judul buku itu, Vani dan kedua temannya hanya tersenyum malu. Sebuah senyum polos khas anak-anak. "Buku ceritanya nggak ada yang bagus, Om," celetuk Ary, teman Vani.

Mahmud Sukirno, Penerima Penghargaan Kalpataru 2014 Kategori Perintis Lingkungan (2-habis)

Sepetak lahan tempat Pakde Kirno merawat bibit-bibit lokal
asli Bintan yang tak jauh dari rumahnya. F/Fatih
Sudah Tebar 1 Miliar Bibit, Utamakan Bibit Lokal Bintan

Tanam. Tanam. Tanam. Hijau. Hijau. Hijau. Itu mimpi panjang Mahmud Sukirno, warga Desa Toapaya Utara, Bintan, setelah menerima penghargaan Kalpataru 2014. 

FATIH MUFTIH, Bintan. 

Ada sebagian orang yang sedikit berbuat, tapi mengejar penghargaan demi penghargaan selama hidupnya. Ada yang justru banyak berbuat dan memberikan manfaat, tapi jarang terlihat. Beruntung hidup Sukirno. Ia berbuat sekaligus terlihat. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bintan pun mengakomodasi kecintaan Sukirno terhadap tumbuhan hingga menasbihkannya sebagai perintis lingkungan hijau 2014. Dari 240 juta jumlah penduduk Indonesia, Sukirno adalah satu dari 13 peraih penghargaan tingkat nasional ini. 

Meski begitu, pria kelahiran 15 Juni 1964 silam ini mengaku, tak pernah tahu apa itu Kalpataru. "Saya saja baru tahu dari tetangga yang buka iPad di sini," katanya. Selama lebih dari 17 tahun menggeluti botani, tak pernah terpikirkan olehnya, apa yang dibuatnya ini justru mengantarnya hingga ke istana wakil presiden RI. Tentu itu semua tak lepas dari kecintaan Sukirno terhadap tumbuhan. Baginya, tumbuhan bukan sekadar komoditi untuk mencari keuntungan. 

Karena bila mencari keuntungan, seperti yang pernah dikatakan berulang kali, rumahnya barangkali sudah bukan papan lagi. Tapi beton dan bertingkat. Apa yang Sukirno katakan ini ada benarnya. Bayangkan saja, sejak awal kali membibit tumbuhan segala jenis varietas yang mungkin dikembangkan, setidaknya sudah ada 1 miliar bibit pohon yang Sukirno tanam. Seribu juta bibit itu tersebar hampir ke seluruh kabupaten/kota yang ada di Kepulauan Riau. 

Bila tiap bibit Sukirno memperoleh keuntungan Rp 1.000 perak saja, pundi-pundi kekayaan Sukirno bisa mencapai Rp 1 triliun!

Sekali lagi, Sukirno menegaskan bukan rupiah yang ia cari dari kecintaannya akan botani. Asal mencukupi kehidupan sehari-hari dan mampu menyekolahkan anak-anaknya, sudah menjadi kekayaan nyata bagi Sukirno. Sehingga, bapak dua anak ini tak ragu-ragu memberikan bibitnya secara cuma-cuma kepada warga sekitar. "Walau belum bisa banyak. Karena untuk itu juga butuh duit untuk beli polybag, upah yang ngisi tanah, dan penyemaian," ucapnya. Semisal kala hendak menyambut Hari Lingkungan Hidup Nasional tahun lalu. 

Sukirno mengusulkan kepada Kepala Desa Toapaya Utara untuk mengadakan gotong-royong menanam pohon di sekitar kantor kepala desa hingga di beberapa tepi ruas jalan utama. "Saya bilang sama Pak Kades, bapak tinggal kerahkan masyarakat saja, urusan bibit saya yang urus," kenang Sukirno. Maka, bila Anda melintas di jalur lama Bintan ke Tanjunguban, jangan heran bila anda mendapati tumbuhan-tumbuhan di tepian jalan itu adalah "sentuhan-midas" Sukirno. 

"Bayangkan saja, Mas, kalau satu pohon itu bisa kasih oksigen untuk banyak orang, apalagi banyak pohon. Ini jadi amal yang tak putus-putus," ucap Sukirno lirih. 

Keberadaan trofi dan sertifikat Kalpataru 2014 di rumah Sukirno, kian menyalakan api semangat suami Supinah ini. Api semangat itu, kata dia, bahkan dipantik langsung oleh Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, yang dijumpainya di Jakarta. "Kata Pak Menteri, tantangan menaklukkan tanah Bintan ini berbeda dengan tanah Jawa dan Sumatra," kata Sukirno, merujuk kalimat Menhut. 

Pernyataan Zulkifli didasari dengan kondisi tanah Bintan yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai pertambangan. Bauksit, misalnya. Selain itu, juga dikarenakan kada keasaman (ph) tanah Bintan yang membuatnya tak bisa sembarangan ditanami. Terkait hal yang pertama, Sukirno mengaku selalu ngeri bila membayangkan pengerukan perut bumi itu terus berlangsung. Karena imbasnya langsung terasa dengan penggundulan lahan-lahan hijau. "Ngeri saja kalau nanti keluar rumah langsung gosong," ucapnya. 

Namun, bukanlah Sukirno bila hanya kengerian-kengeriannya saja yang diumbarkan. Ia mengatakan, sudah menjalin hubungan dengan kontraktor penambang untuk melakukan penghijauan. Ini merupakan tanggung jawab Sukirno yang tak bisa ia elakkan. Sukirno pun menyanggupi tantang penghijauan lahan bekas tambang seluas 260 hektare. "Sekarang baru digarap 30 hektare dulu dengan bibit pohon karet," ujarnya. Mengapa karet?

Sukirno mengusulkan kepada penaja pertambangan agar penghijauan ini bukan sekadar menghijaukan kembali lahan-lahan yang sudah dikeruk kekayaan buminya. Melainkan Sukirno juga menginginkan ada pemanfaatan lanjutan dari penghijauan itu. "Kalau ditanam karet, kan juga bisa menyerap tenaga kerja penyadapnya," sebutnya. Kontraktor pun menerima usulan nominasi Kalpataru 2012 ini. 

Sementara untuk mengakali status lahan Bintan, yang kata Menhut Zulkifli Hasan, sebagai lahan paling kritis tingkat kesuburannya di Indonesia, Sukirno sudah punya strateginya. Saat ini, ia sedang mencoba menyemai dan memperbanyak bibit-bibit lokal asli tanah Bintan. Menurutnya, bibit lokal punya banyak keunggulan ketimbang bibit-bibit unggul dari luar daerah. "Karena bibit lokal itu sudah sesuai dengan kondisi tanah di sini," ungkap Sukirno. Sehingga, Sukirno tak bosan-bosan mengingatkan petani Bintan agar tak mudah tergiur dengan iming-iming keunggulan bibit luar daerah. 

Di antara sekian bibit unggul lokal yang tenga ditumbuh-kembangkan Sukirno, seperti gaharu, sengon, medang, teraling, bingangor, mahoni, dan pulai. "Karena jenis-jenis pohon ini sudah ada di sini sebelum kita," ujar Sukirno. Karena bila tak segera diperbanyak varietas bibit lokal itu, Sukirno mengkhawatirkan jenis-jenis kayu hutan itu segera punah. Untuk menyelaraskan pembibitan itu, Sukirno sudah menggandeng Dinas Kehutan dan Pertanian Bintan. "Sudah menjadi mimpi saya untuk membuat hutan-hutan yang menjadi lahan konservasi bibit-bibit unggul lokal," tutup Sukirno. ***

Mahmud Sukirno, Penerima Penghargaan Kalpataru 2014 Kategori Perintis Lingkungan (1)

Mahmud Sukirno menunjukkan piagam dan trofi Kalpataru
kategori Perintis Lingkungan 2014, Senin (9/6). F/Fatih
Cinta Tumbuhan Sejak Kecil, Tetap Tinggali Rumah Berdinding Kayu

"Kalau orientasinya bisnis, mungkin rumah saya udah tingkat banyak," kata Mahmud Sukirno, penerima Penghargaan Kalpataru 2014 kategori Perintis Lingkungan.

FATIH MUFTIH, Bintan.

Dalam melakoni hidup, Sukirno, begitu lelaki murah senyum ini akrab disapa, menjadikan tumbuhan sebagai dunianya. Ia menjalani laku hidup dunia hijau-hijauan ini dengan segenap cinta. Meski sudah bisa menghasilkan lebih dari 200.000 bibit setiap tahunnya, Sukirno enggan jemawa. Suami Supinah ini masih tetap betah dan ajek meninggali rumah kuna berdinding kayu bersama dua anaknya. "Saya memang nggak mau mengubahnya, karena menghargai rancangan orang tua," ucapnya. 

Di sekitar tempat tinggal sederhana itulah Sukirno menumbuhkembangkan kecintaannya terhadap dunia tumbuhan. Ketika Batam Pos berkunjung ke rumahnya di RT 4 RW 2 Kampung Kangboi Desa Toapaya Utara, Senin (9/6) siang kemarin, terlihat beberapa warga tengah membenahi beberapa bibit tanaman yang hendak dikirim. 

Catatan Dari Bintan Fishing Festival 2014 di Tanjung Berakit

Suasana pasar rakyat dadakan di Pelabuhan Internasional
Tanjung Berakit Bintan, Minggu (8/6). F/Fatih
Pelabuhan Internasional Jadi Pasar Rakyat Dadakan

Pelataran Pelabuhan Internasional Tanjung Berakit yang semula lengang seketika riuh. Ratusan masyarakat sekitar berduyun-duyun membuka tenda dan membuka lapak barang dagangan. Bintan Fishing Festival (BFF) 2014 itu pemantiknya. 

FATIH MUFTIH, Bintan.

Lokasi Pelabuhan Internasional Tanjung Berakit yang berada di ujung Pulau Bintan, atau segaris lurus dengan pantai wisata Trikora, membuat pelabuhan ini acap lengang. Selain karena pelabuhan yang dibangun Dirjen Perhubungan Laut ini belum beroperasi, juga tentu karena jarak tempuhnya. Sekurang-kurangnya diperlukan waktu lebih dari 70 menit dari Tanjungpinang. 

Otomatis, tak banyak yang mengunjunginya. Hanya ketika menjelang petang saja, beberapa anak muda terlihat melangut senja sambil bercerita. Padahal, bila pelabuhan penyeberangan taraf internasional ini sudah beroperasi, kelak akan banyak kapal-kapal jenis ferry tujuan Singapura atau Malaysia yang hilir mudik di sini. Terlebih, tiap tahunnya, tak kurang 400 ribu wisatawan negeri jiran bertandang ke Bintan.